PERBEDAAN PRINSIP DAN PRAKTIK AKUNTANSI SYARIAH DAN KONVENSIONAL

Nurmalasari

Hello rekan Akuntanmu,

Akuntansi merupakan suatu kegiatan yang melibatkan pencatatan, pengelolaan dan pelaporan informasi keuangan yang dimiliki oleh suatu entitas. Dalam praktiknya, akuntansi dapat dibedakan menjadi dua jenis utama, yakni akuntansi syariah dan akuntansi konvensional. Kedua jenis akuntansi ini berlandaskan pada prinsip dasar yang berbeda. Akuntansi syariah didasarkan pada hukum agama isalam, sementara akuntansi konvensional mengacu pada prinsip-prinsip akuntansi yang diterima secara internasional. Perbedaan mendasar antara keduanya tidak hanya pada cara pengelolaan dan pelaporan keuangan, tetapi juga dalam hal tujuan dan nilai-nilai yang menjadi dasar dari setiap praktik akuntansi tersebut.

 

  1. Dasar Hukum

Akuntansi syariah memiliki dasar hukum yang kuat dalam syariat Islam. Hal ini mencakup aturan-aturan yang tercantum dalam Al-Qur’an, Hadis, dan fatwa-fatwa ulama yang berperan sebagai panduan dalam menyusun laporan keuangan serta pengelolaan transaksi keuangan. Tujuan utama dari akuntansi syariah adalah untuk memastikan bahwa setiap transaksi yang dilakukan sesuai dengan prinsip-prinsip Islam, antara lain terhadap riba (bunga), gharar (ketidakpastian) dan maysir (perjudian). Akuntansi syariah juga memiliki standar yang telah diatur dalam PSAK Syariah.

Sebaliknya, akuntansi konvensional berlandasakan pada standar internasional yang telah disepakati secara global, seperti International Financial Reporting Standards (IFRS) atau Generally Accepted Accounting Principles (GAAP). Fokus utama dari akuntansi konvensional adalah pada efisiensi operasional dan pencapaian profitabilitas yang maksimal untuk kepentingan pemangku kepentingan, terutama pemegang saham.

 

  1. Konsep Keuntungan

Dalam akuntansi konvensional, keuntungan merupakan tujuan utama dalam setiap kegiatan bisnis. Perusahaan berusaha untuk memaksimalkan laba dengan segala cara yang sah menurut hukum yang berlaku, untuk memenuhi harapan para pemegang saham. Akuntansi konvensional mengutamakan efisiensi dan pencapaian nilai finansial yang sebesar-besarnya sebagai indikator keberhasilan perusahaan.

Berbeda dengan itu, akuntansi syariah menekankan pada keadilan dan kesejahteraan bersama. Dalam sistem ini, keuntungan yang diperoleh tidak hanya dihitung untuk kepentingan individu atau perusahaan, tetapi harus dibagi secara adil dan digunakan untuk hal-hal yang sesuai dengan prinsip-prinsip syariah. Sebagai contoh, keuntungan yang didapat tidak boleh digunakan untuk aktivitas yang bertentangan dengan ajaran Islam, seperti perjudian atau investasi dalam industri haram. Dalam akuntansi syariah nilai sosial dan etika yang mendalam turut berperan dalam menentukan bagaimana keuntungan harus dialokasikan.

 

  1. Pengelolaan Transaksi

Akuntansi syariah sangat memperhatikan jenis transaksi yang diperbolehkan dan dilarang. Sebagai contoh, transaksi yang melibatkan riba (bunga) seperti bunga pinjaman tidak dibenarkan dalam akuntansi syariah. Sebagai alternatif, akuntansi syariah menggunakan sistem bagi hasil yang lebih adil, seperti Mudharabah (kemitraan) dan Musyarakah (kerja sama) yang memungkinkan keuntungan dan kerugian dibagi sesuai kesepakatan tanpa adanya eksploitasi salah satu pihak.

Disisi lain, dalam akuntansi konvesional transaksi yang melibatkan bunga, seperti pinjaman dengan bunga atau investasi berbunga, tidak dianggap sebagai hal yang salah, selama transaksi tersebut sesuai dengan hukum yang berlaku di negara tempat perusahaan beroperasi. Tidak ada larangan langsung terhadap transaksi berbunga, sehingga prusahaan dapat dengan bebas melakukan transaksi finansial berbasis bunga atau bungan pinjaman yang biasa diterapkan dalam kegiatan bisnis.

 

  1. Pelaporan Keuangan

Laporan keuangan dalam akuntansi syariah tidak hanya mencakup informasi tentang laba rugi, neraca dan arus kas, tetapi juga menyertakan informasi tambahan yang berkaitan dengan kepatuhan terhadap prinsip syariah. Laporan ini umumnya mencakup informasi mengenai distribusi zakat, serta penjelasan mengenai apakah semua transaksi yang dilakukan sesuai dengan ajaran Islam. Hal ini bertujuan untuk memberikan transparasi dan keyakinan kepada para pemangku kepentingan bahwa kegiatan bisnis yang dilakukan tidak bertentangan dengan nilai-nilai agama.

Sebaliknya, laporan keuangan dalam akuntansi konvesional umumnya berfokus pada analisis kinerja finansial perusahaan, seperti laporan laba rugi, neraca dan arus kas. Laporan ini lebih menekankan pada efisiensi operasional dan hasil finansial perusahaan, tanpa memperhitungkan nilai-nilai agama atau aspek moral dalam penyusunan laporan.

 

Kesimpulan

Secara keseluruhan, perbedaan yang paling mencolok antara akuntansi syariah dan akuntansi konvensional terletak pada dasar hukum dan nilai-nilai yang mendasari kedua sistem tersebut. Akuntansi syariah berorientasi pada kepatuhan terhadap hukum Islam dan prinsip-prinsip etika yang tinggi, sementara akuntansi konvensional berfokus pada pencapaian keuntungan finansial yang optimal dalam konteks bisnis global. Meskipun demikian, kedua jenis akuntansi ini memiliki peran penting dalam pengelolaan keuangan dan laporan yang disusun sesuai dengan tujuan, norma, dan nilai yang dianut oleh entitas yang bersangkutan. Oleh karena itu, baik akuntansi syariah maupun konvensional memiliki kelebihan masing-masing dan dapat diterapkan sesuai dengan kebutuhan serta keyakinan yang berlaku di masing-masing negara atau organisasi.

Baca Juga : Apa Perbedaan Akuntansi Syariah & Akuntansi Konvensional - News Akuntanmu

Nurmalasari

Undergraduate of Accounting Business Digital at Lampung State Polytechnic