CARA MUDAH MENGHITUNG CADANGAN KERUGIAN PIUTANG
Halo, Rekan Akuntamu!
Tahukah kamu? Dalam dunia bisnis, tidak semua penjualan berakhir dengan pembayaran yang mulus dari pelanggan. Terkadang, ada risiko pelanggan gagal melunasi piutang mereka. Nah, inilah kenapa perusahaan perlu cadangan kerugian piutang—semacam "payung keuangan" untuk melindungi dari risiko tersebut.
Mengelola cadangan kerugian piutang itu penting banget untuk menjaga stabilitas laporan keuangan perusahaan. Tapi, gimana sih cara menghitungnya? Jangan khawatir! Kali ini kita akan bahas 3 metode sederhana yang bisa kamu gunakan untuk menghitung cadangan kerugian piutang. Yuk, simak sampai habis biar makin paham dan jago mengelolanya!
Cara Menghitung Cadangan Kerugian Piutang
Dalam akuntansi, menghitung cadangan kerugian piutang sangat penting untuk mengantisipasi risiko piutang tak tertagih. Ada tiga metode yang umum digunakan, yaitu:
- Pendekatan Laba Rugi
Pada metode ini, taksiran kerugian piutang dihitung berdasarkan persentase tertentu dari total penjualan, tanpa memperhatikan saldo cadangan kerugian piutang (CKP).
Contoh:
PT Nuna pada tanggal 31 Desember 2023 memiliki saldo penjualan sebesar Rp 1.500.000.000. Taksiran kerugian piutang ditetapkan sebesar 0,5% dari penjualan.
Perhitungan:
Kerugian Piutang = Total Penjualan × Persentase Kerugian
= Rp 1.500.000.000 × 0,5%
= Rp 7.500.000
Jurnal:
Dr. Beban Kerugian Piutang Rp 7.500.000
Cr. Cadangan Kerugian Piutang Rp 7.500.000
- Pendekatan Neraca
Metode ini menghitung taksiran kerugian piutang berdasarkan saldo piutang, dengan memperhatikan saldo cadangan kerugian piutang yang sudah ada.
Contoh:
PT Nuna pada tanggal 31 Desember 2023 memiliki saldo akun piutang dagang sebesar Rp 300.000.000, Cadangan Kerugian Piutang Tak Tertagih sebelumnya sebesar Rp 3.000.000. taksiran kerugian pitang sebesar 2% dari saldo piutang.
Perhitungan:
Kerugian Piutang = 2% × Rp 300.000.000 = Rp 6.000.000
Kerugian yang menjadi beban tahun 2023:
Rp 6.000.000 - Rp 3.000.000 = Rp 3.000.000
Jurnal :
Dr. Beban Kerugian Piutang Rp 3.000.000
Cr. Cadangan Kerugian Piutang Rp 3.000.000
- Berdasarkan Analisis Umur Piutang
Metode ini menghitung taksiran kerugian piutang berdasarkan usia piutang. Piutang dikelompokkan berdasarkan umurnya, dan masing-masing kelompok diberikan persentase kerugian tertentu.
Contoh:
PT Firman pada 31 Desember 2023 memiliki akun dengan saldo berikut;
Piutang dagang = Rp 300.000.000, Cadangan Kerugian Piutang = Rp 3.000.000. dengan rincian piutang:
- PT ABC Rp 150.000.000 dengan umur piutang 61-90 hari
- PT XYZ Rp 100.000.000 dengan umur piutang 31-60 hari
- PT BKZ Rp 50.000.000 belum jatuh tempo.
Diketahui % yang belum jatuh tempo sebesar 2%, 31-60 hari 5%, 61-90 hari 10%, lebih dari 90 hari 15%. Hitung cadangan kerugian piutang dan jurnalnya!
Perhitungan:
- Kerugian PT ABC : 10% X Rp 150.000.000 = Rp 15.000.000
- Kerugian PT XYZ : 5% X Rp 100.000.000 = Rp 5.000.000
- Kerugian PT BKZ : 2% X Rp 50.000.000 = Rp 1.000.000
Total Rp 21.000.000, karena Saldo CKP di neraca sebelumnya sebesar Rp 3.000.000 maka beban tambahan tahun 2023 adalah Rp 17.000.000.
Jurnal :
Dr. Beban Kerugian Piutang Rp 17.000.000
Cr. Cadangan Kerugian Piutang Rp 17.000.000
Itulah tadi pembahasan tentang cara menghitung cadangan kerugian piutang—mudah dipahami, kan? Semoga penjelasan ini bermanfaat untuk kalian yang sedang belajar atau bekerja di bidang akuntansi. Kalau ada materi lain yang kalian ingin kita bahas, langsung tulis di kolom komentar, ya! Kita akan kupas tuntas bersama di artikel berikutnya. Jangan lupa tetap semangat belajar dan jaga kesehatan. Sampai jumpa lagi, Rekan Akuntamu!
